Urtikaria (Part 4)

Sebelumnya di Urtikaria (Part 3)

IX. Pengobatan :

Pengobatan yang paling ideal adalah mengobati penyebab atau bila mungkin menghindari penyebab yang dicurigai. Bila tidak mungkin, setidaknya diusahakan mengurangi penyebab tersebut, diusahakan untuk tidak menggunakan dan tidak berkontak dengan penyebabnya.

Pada penderita urtikaria perlu diberikan antihistamin untuk mengurangi gatal. Cara kerja antihistamin yaitu dengan menghambat histamin pada reseptor-reseptornya. Antihistamin dikelompokkan menjadi 2, yaitu : antagonis reseptor H1 (antihistamin 1, AH1) dan reseptor H2 (AH2).

Tabel Penggolongan Antihistamin :

 

Kelas/Nama Generik Nama Dagang
Antihistamin H1 Etanolamin/ Difenilhidramin Benadryl
Etilendiamin/Tripelenamin Pyribenzamine
Alkilamin/Klofeniramid Chlortrimethon
Piperazin/Siklizin Marazine
Fenotiazin/Prometazin Phenergan
Hidroksizin/Hidroklorid Atarax
Siproheptadin Perlactin
Antihistamin H2 Cimetidine

 

Secara klinis, dasar pengobatan urtikaria dan angioedema dipercayakan pada efek antagonis terhadap histamin pada reseptor H1. Tapi kadang efek sampingnya yaitu sedasi, cukup mengganggu. Jadi dikembangkan obat antihistamin non klasik, obat ini berkhasiat terhadap reseptor H1 juga, tapi non-sedasi.

Pada umumnya efek antihistamin terlihat dalam waktu 15-30 menit setelah pemakaian oral, dan mencapai puncaknya pada 1-2 jam. Lama kerjanya bervariasi antara 3-6 jam. Ada juga antihistamin yang kerjanya lebih lama, yaitu meklizin dan klemastin. Biasanya antihistamin golongan AH1 yang klasik menyebabkan kontraksi otot polos, vasokonstriksi, penurunan permeabilitas kapiler, penekanan sekresi dan penekanan pruritus.

Antihistamin H1 yang non-klasik contohnya : terfenadin, astemizol, loratadin dan mequtazin. Golongan ini diabsorpsi lebih cepat dan mencapai kadar puncak dalam waktu 1-4 jam. Onset of action lebih lambat dan mencapai efek maksimal dalm waktu 4 jam (terfenadin), sedangkan aztemizol dalam waktu 96 jam setelah pemberian oral. Efektivitasnya berlangsung lebih lama dibandingkan dengan AH1 yang klasik, bahkan astemizol masih efektif 21 hari setelah pemberian dosis tunggal oral. Golongan ini disebut antihistamin yang long acting.

Keunggulan AH1 non-klasik adalah tidak memiliki efek sedasi karena tidak dapat menembus sawar darah otak. Golongan ini juga tidak member efek antikolinergik, tidak menimbulkan potensiasi dengan alcohol, dan tidak terdapat penekanan pada SSP serta relatif non-toksik.

Ada juga obat antihistamin baru yang berkhasiat berspektrum luas. Obat ini selain berkhasiat sebagai antihistamin juga berkhasiat terhadap mediator lain (serotonin). Contoh obat ini adalah homoklorsiklizin.

Jika pengobatan dengan satu jenis antihistamin gagal, dapat dicoba dipergunakan antihistamin grup yang lain. Hidroksizin lebih efektif daripada antihistamin lain untuk mencegah urtikaria. Demografisme dan urtikaria kolinergik. Siproheptadin lebih efektif untuk urtikaria karena dingin.

Kadang-kadang, golongan beta adrenergik (seperti epinefrin atau efedrin), kortikosteroid dan tranquilizer juga baik untuk urtikaria. Obat beta adrenergik biasanya digunakan untuk urtikaria yang kronik, sedangkan kortikosteroid sistemik digunakan untuk urtikaria yang akut dan berat. Kortikosteroid tidak terlalu bermanfaat untuk urtikaria kronik.

Pada tahun-tahun terakhir ini dikembangkan pengobatan baru. Hasil pengamatan membuktikan bahwa dinding pembuluh darah manusia juga memiliki reseptor H2. Hal ini menerangkan mengapa AH1 tidak selalu berhasil mengatasi urtikaria. Kombinasi AH1 dan AH2 masih dalam penelitian lebih lanjut, tapi pada demografisme yang kronik pengobatan kombinasi ternayta lebih efektif daripada AH1 saja.

Pada edema angioneurotik, kematian hampir 30% disebabkan karena obstruksi saluran nafas. Biasanya tidak responsive terhadap antihistamin, epinefrin, maupun steroid. Pada gigitan serangga akut mungkin dapat diberikan infuse dengan plasma fresh frozen, pemberian plasma yang mengandung C1 esterase inhibitor, C2 dan C4. Yang penting adalah segera mengatasi edema laringnya.

Pengobatan dengan anti-enzim, misalnya anti-plasmin dimaksudkan untuk menekan aktivitas plasmin yang timbul pada perubahan reaksi antigen antibody. Preparat yang digunakan adalah ilsolon. Obat lain ialah trasilol, hasilnya 44% memuaskan.

Pengobatan dengan cara desensitasi, misalnya dilakukan pada urtikaria dingin dengan melakukan sensitasi air pada suhu 10⁰C (1-2 menit) 2 kali sehari selama 2-3 minggu. Pada alergi debu, serbuk sari bunga dan jamur, desensitasi mula-mula dengan allergen dosis kecil 1 minggu 2x; dosis dinaikkan dan dijarangkan perlahan-lahan sampai batas yang dapat ditoleransi oleh penderita. Eliminasi diet dicobakan pada penderita yang sensitive terhadap makanan.

Pengobatan lokal di kulit dapat diberikan secara simptomatik, misalnya anti-pruritus di dalam bedak atau bedak kocok.

 

X. Prognosis :

Urtikaria akut prognosisnya lebih baik karena penyebab cepat dapat diatasi. Urtikaria kronik lebih sulit diatasi karena penyebabnya sulit dicari.

 

XI. Gambar Urtikaria :

 

XII. Daftar Pustaka :

AP Kaplan, K Eolff et al (eds); Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine, 7th ed. New York, McGraw-Hill, 2008, p339.

 

 

Posted on December 19, 2010, in Kulit Kelamin, Referat and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: